Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

EVALUASI POTENSI KEBAKARAN HUTAN

Gambar
Kebakaran hutan merupakan salah satu gangguan dalam pengelolaan hutan, berbagai dampak negative akibat kebakaran hutan dapat berakibat baik pada manusia, hewan, tumbuhan, udara, tanah dan dampak lingkungan lainnya. Pemantauan secara berkala terhadap faktor-faktor penyebab kebakaran hutan adalah salah satu upaya PT Intracawood Manufacturing meminimalisir terjadinya kebakaran hutan pada areal konsesinya. Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui kapan waktu paling rawan terjadinya kebakaran hutan dan tindakan-tindakan pencegahan di areal konsesi PT Intracawood Manufacturing. Kegiatan pemantauan dengan menggunakan metode KBDI (Keetch-Byram Dryness Indek) dapat disajikan hasil sebagai berikut: 1. Tahun 2008 • Indeks kebakaran berkisar pada 154.18 – 540.23 • Indeks kebakaran tertinggi terjadi bulan Oktober yaitu : 540.23 sedangkan indeks terendah pada bulan Nopember yaitu 154.18 • Total curah hujan total : 3,386.66 mm • Total hari hujan : 206 hari dengan curah hujan rata-rata : 16....

PENGUKURAN TAHUN KE 13 PUP SERI I (EKS RKT 1994/1995/RKT 2009, TPTI Sekatak)

Maksud dan tujuan pembuatan Petak Ukur Permanan (PUP) adalah untuk mengetahui riap pertumbuhan jenis komersil dengan perlakuan dan Non perlakuan, keragaman jenis tegakan sisa penebangan dan pengaruh perlakuan dan non perlakuan Hasil kegiatan pengukuran PUP Seri I Sekatak sebagai berikut: 1. Komposisi Jenis • Perlakuan jenis Komersil Jumlah 47 jenis pohon (643 btg) didominasi dari family Dipterocarpaceae, kerapatan rata-rata 214.33 btg/ha, dan tingkat kematian sebesar 13,90% • Non Perlakuan jenis Komersil Jumlah 48 jenis pohon (641 btg) didominasi dari family Dipterocarpaceae, kerapatan rata-rata 213.67 btg/ha, dan tingkat kematian sebesar 17.49%. • Total komposisi jenis Total komposisi jenis seluruh plot adalah 61 jenis pohon ( 1.284 btg)didominasi dari family Dipterocarpaceae, kerapatan rata-rata 214 btg/ha dan tingkat kematian 14.4%. 2. Riap Diameter • Perlakuan jenis Komersil Riap diameter terbesar jenis komersil pada PUP perlakuan adalah dari family Dipterocarpaceae se...

PENGUKURAN TAHUN KE 10 PUP SERI I (EKS RKT 1993/1994, TPTI Bengalun)

Maksud dan tujuan pembuatan Petak Ukur Permanan (PUP) adalah untuk mengetahui riap pertumbuhan jenis komersil dengan perlakuan dan Non perlakuan, keragaman jenis tegakan sisa penebangan dan pengaruh perlakuan dan non perlakuan Hasil kegiatan pengukuran PUP Seri I Bengalun sebagai berikut: 1. Komposisi Jenis • Perlakuan jenis Komersil Jumlah 79 jenis pohon (684 btg) didominasi dari family Dipterocarpaceae, kerapatan rata-rata 228 btg/ha, dan tingkat kematian sebesar 13,56% • Non Perlakuan jenis Komersil Jumlah 58 jenis pohon (603 btg) didominasi dari family Dipterocarpaceae, kerapatan rata-rata 201 btg/ha, dan tingkat kematian sebesar 7.74%. • Total komposisi jenis Total komposisi jenis seluruh plot adalah 82 jenis pohon (1.287 btg)didominasi dari family Dipterocarpaceae, kerapatan rata-rata 429 btg/ha dan tingkat kematian 10.84%. 2. Riap Diameter • Perlakuan jenis Komersil Riap diameter terbesar jenis komersil pada PUP perlakuan adalah dari family Magnoliceae sebesar 1.88...

PENGUKURAN TAHUN KE 1 PUP SERI II (RKT 2007, TPTI Sekatak)

Maksud dan tujuan pembuatan Petak Ukur Permanan (PUP) adalah untuk mengetahui riap pertumbuhan jenis komersil dengan perlakuan dan Non perlakuan, keragaman jenis tegakan sisa penebangan dan pengaruh perlakuan dan non perlakuan. Hasil kegiatan pengukuran PUP Seri II sebagai berikut: 1. Komposisi Jenis • Perlakuan jenis Komersil Jumlah 48 jenis pohon (550 btg) didominasi dari family Dipterocarpaceae, kerapatan rata-rata 183.3 btg/ha, dan tingkat kematian sebesar 0.90% • Non Perlakuan jenis Komersil Jumlah 41 jenis pohon (703 btg) didominasi dari family Dipterocarpaceae, kerapatan rata-rata 235.3 btg/ha, dan tingkat kematian sebesar 1.68%. • Total komposisi jenis Total komposisi jenis seluruh plot adalah 51 jenis pohon (1.253 btg)didominasi dari family Dipterocarpaceae, kerapatan rata-rata 208.8 btg/ha dan tingkat kematian 1.34%. 2. Riap Diameter • Perlakuan jenis Komersil Riap diameter terbesar jenis komersil pada PUP perlakuan adalah dari family Dipterocarpacae sebesar 0.81 ...

EVALUASI TEGAKAN TINGGAL PASCA PENEBANGAN (berdasarkan hasil IHMB)

Pemanenan atau pemanfaatan hasil hutan menimbulkan berbagai dampak positif ataupun negatif. Salah satu dampak positif kegiatan pemnafaatan hasil hutan adalah terbukanya lantai hutan yang dapat menstimulir pertumbuhan anakan dan pakan satwa. Sedangkan dampak negatif antara lain perubahan komposisi dan struktur tegakan serta adanya kerusakan pada tegakan tinggal. Tujuan analisis tegakan tinggal pasca penebangan pada areal IUPHHK PT Intracawood Manufacturing adalah untuk mengetahui komposisi jenis dan struktur tegakan tinggal pasca penebangan serta untuk mengetahui ketersediaan jenis-jenis komersil. Dari kegiatan tersebut dapat disajikan hasil sebagai berikut: 1. Jenis- jenis komersil (kelompok Meranti & Rimba Campuran) yang ditemukan • Tingkat Tiang terbanyak pada blok RKT 2008 (17 Jenis) dan terendah pada blok RKT 2002 ( 9 jenis) • Tingkat pohon kecil terbanyak pada blok RKT 2008 (17 Jenis) dan terendah pada blok RKT 2002 ( 9 jenis) • Tingkat pohon besar terbanyak pada blo...

SEKILAS PENGALAMAN PMDH/KELOLA SOSIAL

Gambar
Tumbuhnya partisipasi dan kemandirian masyarakat, dalam penyediaan sarana prasarana ekonomi lokal dan terciptanya kesadaran dan perilaku positif dalam pelestarian sumber daya alam adalah konsep yang ingin dicapai dalam pelaksanaan program Kelola Sosial. Dalam upaya mewujudkan pengelolaan hutan secara lestari dimana program PMDH merupakan satu kesatuan dari PHPL maka PT Intracawood Manufacturing pada tahun 2000 melibatkan Program Pengkajian dan Pengembangan Antropologi Ekologi Universitas Indonesia (P3AE-UI) untuk mengkaji dan mengembangkan pola-pola kemitraan & pendekatan kepada masyarakat sekitar yang hingga saat ini dikenal dengan istilah Kelola Sosial.Sebagai bentuk pertanggungjawaban dan laporan, secara rutin unit manajemen mengirimkan laporan realisasi kegiatan PMDH/Kelola Sosial kepada instansi terkait. Berikut adalah realisasi kegiatan program PMDH/Kelola Sosial Tahun 2007,2008,2009 Gambar sarana prasarana Download sapras

MADU HUTAN (salah satu produk hasil hutan non kayu di areal PT Intracawood Manufacturing)

Gambar
Hasil Hutan Non Kayu (Non Timber Forst Product, NTFPs) merupakan hasil hutan yang bukan kayu berasal dari bagian pohon atau tumbuh-tumbuhan yang memiliki sifat khusus yang dapat menjadi suatu barang yang diperlukan oleh masyarakat, Hasil hutan non kayu pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya madu, getah, daun, kulit, buah dan lain-lain atau berupa tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain. Produk hasil hutan non kayu adalah semua material biologis selain kayu yang diekstrak dari hutan alam untuk kemanfaatan manusia. Dalam rangka mewujudkan Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari (PHAPL) unit manajemen telah menerapkan serangkaian kegiatan pengelolaan hutan berkelanjutan dengan mengedepankan pada 3 aspek yaitu aspek produksi, aspek ekologi dan aspek sosial. Diantara strategi dari aspek sosial yang selama ini dijalankan oleh unit manajemen adalah dengan memberikan aksebilitas kepada masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan...

Rencana Pengelolaan HCVF

Melalui kerjasama dengan TNC, areal HCVF dalam konsesi PT Intracawood Manufacturing telah ditetapkan seluas 8.117 ha yang berada di sekitar sungai Elor wilayah kerja Camp Sekatak. Dalam rangka terjaganya fungsi dan keberadaan areal HCVF dimaksud, maka disusun Rencana Pengelolaan Kawasan Konservasi (HCVF) dengan tujuan sebagai berikut : 1. Adanya kepastian kawasan dalam bentuk penataan batas luar areal HCVF. 2. Diketahuinya keanekaragaman flora maupun fauna yang berada di dalam areal HCVF. 3. Adanya upaya pembinaan habitat. 1. Rencana Kegiatan Untuk keperluan dimaksud, maka disusun beberapa Rencana Pengelolaan sebagai berikut ; 1.1. Penataan Areal Kerja Penataan areal ini berupa penataan batas luar kawasan konservasi (HCVF) yang merupakan kegiatan yang dilaksanakan setelah adanya penetapan lokasi yang ditunjuk sebagai kawasan konservasi (HCVF). Panjang seluruh batas luar yang akan dilakukan penataanbatas adalah sepanjang 86.446,49 meter yang akan dilaksanakan secara bertahap hing...

AYO MENANAM >>> BPKP DI INTRACA FOREST PARK

Gambar